Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Januari 2017

sebuah Cerita Pendek dari Enggar Tyastiwi. M






Awal melihatnya, ah dia lumayan cantik, tapi aku tidak tertarik. Aku beranggapan begitu karena belum mengenalnya dekat. Awal minggu semester 1, ah dia sok sekali! pikirku. Aku beranggapan negatif lagi karena belum mengenalnya lebih jauh.

Akhir semester 2, hebat, dia berhasil membuatku membuka hati yang sudah lama aku kunci. Aneh bagiku, hanya berselang beberapa bulan dan dia berhasil masuk ke dalam hati yang terkunci. Apa dia yang selama ini memegang kuncinya?

Awal semester 3, rasanya perasaanku berkecamuk. Aku pikir aku satu-satunya, ternyata dia bisa membuka pintu hati pria-pria lain juga. Dia seperti tukang kunci, jenis pintu apa pun bisa dibukanya. Dia tidak salah, tidak pernah salah. Wanita selalu benar, aku yang salah terlalu mudah terbawa perasaan.

Akhir semester 4, dia mencoba kembali membuka hati yang sudah aku gembok rantai sekuatnya, dan hebat, dia berhasil masuk. Sekuat tenaga aku menahan agar dia tidak masuk. Namun dia tidak kehabisan akal, seolah bisa masuk dari celah lain. Aku seharusnya belajar dari pengalaman. Dia masuk bukan untuk tinggal, namun hanya singgah, singgah untuk minum dan istirahat dari pelariannya terhadap pria lain.

Pertengahan semester 5, di saat itu aku berharap waktu berjalan lambat. Beberapa bulan lagi memasuki semester 6 dan selanjutnya kami wisuda D3. Aku pecundang besar yang penakut. Terlalu takut untuk mengatakan yang sebenarnya, bahwa dia singgah terlalu lama, dan aku ingin mengusirnya dari hatiku. Namun di sisi lain, aku berharap dia tidak pergi. Sejujurnya aku hanya takut dia malah akan berjalan masuk lebih dalam di hatiku.

Wisuda D3, dan dia sangat anggun mengenakan kebayanya. Membuat delusiku tersiar indah membayangkan dia akan seanggun itu nanti di pelaminan kami. Pengecut tetaplah pengecut! Selama ini aku menyangkal bahwa aku memiliki perasaan terhadapnya. Dan pecundang yang menolak kenyataan bahwa sebenarnya dia sudah lama pergi dari hatiku, namun aku yang membuat bayangnya seolah tetap tinggal. Selepas wisuda ini, entah apa aku masih bisa bertemu lagi dengannya.

**

5 tahun setelah wisuda dan aku tidak pernah melihatnya lagi. Aku akui merindukannya, sangat, sangat merindukannya. Aku masih mencari-cari jawaban atas ketidak-nyamanan yang selama ini aku rasakan. Dia hanya wanita biasa, mengapa meninggalkan perih yang luar biasa?

Sebulan lalu aku mendengar kabarnya dari kawan kampusku dulu. Awalnya aku tidak percaya apa yang aku dengar. Dan kini aku berkendara berkeliling di pinggir kota Dievorlo, mencari keberadaannya, keberadaan wanita itu. Aku tidak percaya dia menjadi PSK di pinggiran kota ini.

Perih! Andai wanita itu menikah denganku, aku berjanji akan membahagiakannya seumur hidup. Perih! Dia kotor, dan aku masih menyimpan perasaan ini terhadapnya. Bukan cinta jika kau tidak berkendara selama 5 hari dari rumah ke Dievorlo demi mencari Dia yang entah masih mengingatmu atau tidak. Mungkin laki-laki lain malah akan mencari perempuan lain yang lebih baik dari pada menunggunya.

Petang hari, Aku berhasil menemukannya di pinggir jalan dekat pom bensin menunggu pria hidung belang. Aku mengajaknya ngopi di Caffe. Dia duduk di hadapanku, masih sama seperti yang dulu, cantik, menyenangkan dan lembut.

Aku telah dewasa, tidak seharusnya menjadi pecundang terus menerus. Aku ceritakan semua padanya bagaimana aku telah menyimpan perasaan terhadapnya sejak awal melihatnya. Sejak akhir semester 2 aku sudah mencintainya, namun aku hanya bisa memendam dan menyangkal perasaanku sendiri.

Aku sudah mengira-ngira jawaban apa yang akan dia berikan. Dan dia meminta maaf juga berterima kasih padaku. Minta maaf karena tidak bisa membalas perasaanku, dan berterima kasih karena aku telah mencintainya. Aku tidak bodoh, itu adalah sebuah penolakkan yang tersirat. 

            Dan sebuah maaf terakhir darinya. Sebuah alasan besar yang mendasari keputusannya menolakku. “Aku kotor” jawabnya lirih. Aku tau itu, dan aku pun sakit mengetahuinya. “Aku berpenyakit, aku sudah terinfeksi” lanjutnya dengan air mata. Ya, aku tau itu, aku perih mendengarnya, terlalu kecewa untuk menerimanya.

            Jauh-jauh berkendara, sebenarnya tujuanku bukan untuk memintanya menikah denganku, ya awalnya memang itu. Namun setelah aku pikir berulang kali, aku tidak bisa, dia sudah kotor. Kecewa, sangat mengecewakan bagiku.

            Datang dari jauh, aku ingin memintanya untuk pergi dari hatiku, menutup pintu hatiku lalu menguncinya. Dan dia harus membuang kunci itu sejauh-jauhnya agar dia tidak bisa masuk lagi ke hatiku. Selama ini belum ada wanita lain yang berhasil masuk ke dalam hatiku karena masih ada dia di dalamnya beserta kuncinya.

            “Kunci apa maksudmu? Aku tidak mengerti!”. Jawabnya

            Ya, aku paham. Dia memang tidak pernah menggunakan kunci apapun untuk membuatku mencintainya. Itu hanya delusiku untuk menyangkal perasaanku sendiri terhadapnya. Ternyata aku yang memang diam-diam mencintainya dari kejauhan, dan dalam diam.

Tentang kunci itu ternyata tidak benar-benar ada, itu hanya delusiku. Ternyata dia memang sudah tinggal dihatiku sejak lama, bodohnya selama ini aku menyangkalnya. Dan semua sudah terlambat. “Aku mencintaimu, sejak dulu, sekarang, dan nanti”. Ucapku dalam hati dan berkendara pulang.


Sudah terlalu terlambat, dia sudah parah, penyakitnya sudah menjangkit. Beberapa hari setelah pertemuanku dengannya, dia dikabarkan meninggal dunia.




Minggu, 10 Juli 2016

Sebuah Cerita Pendek dari Enggar Tyastiwi. M





Namaku Lili, Lili Jean 16 tahun. Aku hanya perempuan biasa, tidak ada yang spesial dalam diriku. Aku tidak cantik, tidak kaya, tidak terlalu pintar (tidak bodoh juga), pendiam dan tidak pandai bergaul.

Aku tidak cantik” kata-kata tersebut yang muncul dibenakku setiap kali bercermin. Tubuhku menyedihkan gendut tak berbentuk, kulitku tidak putih cenderung dekil dan wajahku selalu berminyak (padahal aku membersihkannya setiap saat), rambutku tipis mudah kusut. Aku tidak punya banyak uang untuk perawatan seperti gadis lain, pergi ke salon atau beli produk perawatan. Jadi aku biarkan diriku ini apa adanya, walaupun kadang aku membencinya. Tapi dari itu semua, aku bersyukur Tuhan memberiku sedikit kelebihan pada otakku. Sehingga aku tidak benar-benar ‘ngeblangsak’.

Aku tidak kaya” kata-kata tersebut selalu muncul di batinku ketika aku mulai iri dengan anak-anak lain yang punya segalanya. Aku berusaha untuk mengontrol setiap keinginanku dengan ucapanku tersebut. Karena aku bukan orang kaya. Ayahku hanya seorang pekerja di perusahaan teknologi, dan Ibu bilang gaji Ayah cukup. Namun aku sendiri tidak pernah tau berapa nominalnya. Dan aku juga tidak pernah tau gajinya cukup untuk apa. Untuk makan? Untuk pendidikanku? Entahlah!

Pendiam” ya, itu aku. Aku tidak banyak bicara, bicara itu melelahkan. Lagi pula aku tidak punya hal menarik untuk diceritakan. Kebanyakan hari-hariku dimulai dan berakhir begitu saja. Tanpa kenangan di dalamnya.

Tidak pandai bergaul” kalian bisa menyimpulkan sendiri dari penjelasan-penjelasan di atas. Semua itu menyebabkan Minder, aku selalu minder untuk memulai pertemanan baru. Aku minder karena tidak cantik, tidak modis, tidak up-to-date dan aku pendiam serta membosankan, serta aku sama sekali bukan tipe gadis dari seorang pria.

Aku benci ketika orang-orang hanya respect pada seorang wanita karena kecantikannya. Oh really? Does beauty really matter to you?. Aku hanya bisa menghembuskan nafas kasar pada orang-orang yang suka memberi perlakuan berbeda pada yang cantik. Seperti selalu menawarkan pertolongan, memberi perhatian lebih, dan wanita cantik seperti lebih dilihat dari pada yang tidak cantik.

Aku iri, jujur sangat iri pada wanita cantik. Apakah aku harus jadi cantik atau kaya raya dahulu agar orang-orang melihatku? Aku si manusia tak terlihat di kelas, bukan tak terlihat, tak dihiraukan tepatnya. Pernah sekali aku pergi memakai make-up, namun tetap saja tidak ada yang melirik atau menyapaku.

Aku tidak munafik, aku pun akan memberikan perlakuan lebih pada yang tampan, namun aku tidak pilih kasih bagi yang jelek. Karena aku tau rasanya diperlakukan pilih kasih. Lantas apa yang harus aku lakukan agar orang-orang melihatku atau menyadari keberadaanku? Dengan prestasi? Itu sulit! Aku pernah mencobanya dan gagal.

Meneror semua orang di sekolah? Itu konyol! Yang ada aku akan ditangkap polisi. Sekalinya seseorang menyadari keberadaanku, dia membullyku dengan ucapannya yang menyakitkan hati. Aku marah! Aku sedih! Aku benci orang-orang! Mereka terlalu jahat.

Dan aku tau satu hal yang dapat membuatku dilihat orang-orang!

Aku pergi ke lantai teratas di sekolahku. Pemandangan di atas sangat indah! Jika aku bisa terbang, mungkin orang-orang akan melihatku. Kemudian aku terbang, namun hanya beberapa detik. Setelah itu aku merasakan tubuhku sakit luar biasa, namun aku masih bisa melihat walaupun berat.

Kali ini aku benar! Orang-orang datang mengerumuni untuk melihatku. Di kerumunan itu pula aku melihat seorang pria bersayap, dan dia menarikku paksa untuk bangkit. Pria bersayap itu bilang “keinginanmu terkabul! Orang-orang melihatmu sekarang! Namun sebagai gadis yang bunuh diri. Terjun dari atas gedung karena tidak tahan di bully. Sekarang ikut aku, dan Tuhan akan melihatmu.”




STOP BULLYING

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~




Sabtu, 09 Juli 2016

Sebuah Cerita Pendek dari Enggar Tyastiwi. M







Aku cenderung orang yang tertutup. Aku tidak suka banyak bicara. Aku juga tidak suka keramaian. Orang-orang sering menemukanku berada di pojok ruangan dengan wajah terbenam pada lembaran buku. Terkadang aku juga benci dengan orang-orang, sebagian besar mereka menyebalkan. Maka dari itu aku lebih suka menarik diriku jauh dari keramaian.

Aku tidak menganggap tingkah lakuku ini aneh. Semua biasa dan normal. Aku juga tidak percaya pada orang-orang, khususnya pada laki-laki. Laki-laki diciptakan hanya untuk mengacau dan melukai perempuan. Jangan salahkan aku beranggapan seperti itu.

Aku akan menceritaknnya awal mula aku seperti ini. Umur 5 tahun aku sudah mendapat tontonan kekerasan secara langsung di rumah. Seorang pria yang aku panggil Ayah setiap hari banyak bicara, suaranya keras hingga aku harus menutup telingaku. Sentuhan tangannya meninggalkan cairan merah pada dahi ibuku.

Ayah pergi dari rumah lewat pintu belakang, namun sebelumnya ada suara letusan keras. Dan dahi ibu berlubang mengeluarkan semakin banyak cairan merah. Disaat itu pula orang-orang datang mengerumuni rumahku. Mereka semua berisik! Bahkan salah satu dari mereka menjerit histeris sambil mengarahkan telunjuknya padaku. sudahku bilang, orang-orang memang menyebalkan.

Ternyata mereka bukan menunjuk padaku, tapi pada seseorang tepat di belakangku. Aku tengok ke belakang ternyata Ayah. Aku kira dia sudah pergi tadi. Namun aku merasakan sesuatu yang dingin dan tajam menyentuh kulit leherku bersamaan dengan Ayah yang memelukku dari belakang. Orang-orang semakin menjerit tidak karuan. Kepalaku pusing mendengar suara bising mereka.

Polisi datang untuk menangkap Ayahku dan mereka berhasil. Tapi polisi gagal menolongku. Benda yang dingin dan tajam tersebut telah menembus ke dalam leherku dan mengeluarkan cairan merah sama seperti ibu. Kepalaku semakin pusing, pandanganku semakin gelap dan blur. Aku tidak kuat menahan bobot tubuhku sendiri. Rupanya cairan merah ini sangat berpengaruh pada diriku. Semakin banyak cairan itu keluar, semakin lemahlah aku.

Aku terbangun dan bangkit, tapi ragaku tidak ikut bangkit. Aku bisa melihat sendiri ragaku tergeletak di lantai dibanjiri cairan merah. Aku menyentuh ragaku sendiri, namun tanganku menembusnya. Dan aku melihat diriku sendiri, seluruh tubuhku tembus pandang. Apa yang terjadi padaku? Dan dimana Ayahku sekarang? Kenapa orang-orang menangisi ragaku? Mengapa mereka menutup tubuhku dengan koran?

Semenjak kejadian itu, ketika aku berjalan dari rumah ke rumah, pasti orang-orang menjerit ketakutan dan lari terbirit. Apa yang salah denganku? Aku hanya ingin mencari hiburan, aku bosan tidak punya teman. Aku juga tidak tau keberadaan Ayah dan ibuku saat ini.

Aku terus berjalan mencari sesuatu yang dapat menghiburku. Dan akhirnya aku menemukan sebuah buku yang menarik, di salah satu kamar tetanggaku. Aku tertarik melihatnya dan aku juga senang berada di pojok kamar sambil mengebet lembar buku.

Tapi aku benci, aku selalu di usir dari kamar. Mereka bilang itu bukan tempatku. Aku sedih kenapa setiap orang membenciku? Tidak menginginkanku? Aku hanya butuh tempat tinggal. Karena selalu diusir, aku terus pindah tempat dari rumah ke rumah untuk menemukan kamar yang nyaman dan untukku mengebet buku di sana. Tapi sebelum aku pindah, aku meninggalkan cairan merah pada mereka yang mengusirku secara kasar. Orang-orang memang menyebalkan, mereka pantas mendapatkan itu.

Jika kalian menemukanku di pojok kamar, jangan usir aku. Aku tidak akan mengganggu. Aku hanya butuh tempat tinggal. Jika kalian tidak nyaman aku di sana, usirlah aku dengan sopan. Bacakan aku ayat-ayat yang dapat membawaku ke tempat yang seharusnya aku berada.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Senin, 04 Juli 2016

Sebuah Cerita Pendek dari Enggar Tyastiwi. M





Aku bisa melihat kilauan berlian kecil di jari manisnya. Seharusnya aku yang memberikan itu. Aku merasakan nyeri yang amat sangat di dalam rongga dadaku ketika pria lain menciumnya di depan altar dan disaksikan para tamu. Seharusnya aku yang melakukan itu. Seharusnya semua momen-momen itu milikku.


            Kali ini aku yang tersenyum bahagia sambil menggenggam pisau berlumuran cairan berwarna merah. Dan ratusan tamu telah tergelatak di lantai dengan damainya. Aku membawa wanita ini pergi jauh karena sudah tidak ada orang lagi yang menghalangiku. Aku tertawa puas pada sentuhan terakhir. Yaitu, membersihkan semua hal yang bukan milikku dengan bensin. Membakar habis altar.


Tanpa suara aku menyeret wanita ini jauh ke tempat dimana orang tidak akan pernah menemukannya. Gaun putihnya kini berubah coklat sedikit kemerahan. Aku tidak akan membiarkan warna putih gaunnya bersinar indah untuk pria lain. Aku memberinya kecupan selamat tinggal dan melemparkan beberapa tangkai mawar merah di kakinya, sebelum meninggalkannya.


            Namun sebelum benar-benar meninggalkannya, aku menatapnya sejenak. Dan sekumpulan memori terputar kembali di dalam kepalaku. Sekumpulan memori yang tercipta indah bersama wanita ini, bagaimana dahulu berjalan indah dengan selayaknya. Hingga akhirnya ia malah memutuskan memilih orang lain dari pada aku. Aku terus menatapnya sambil terus berpikir. Seharusnya momen indah pernikahan ini adalah untukku, bukan pria lain.


            Aku tidak pernah berpikir untuk melakukan hal sadis ini kepadanya. Semua ini terlintas begitu saja di kepalaku. Dan sekarang, hanya aku dan wanita ini di sini. Itu adalah lebih dari cukup. Jika kau bertanya mengapa aku melakukan ini, karena yang aku inginkan hanyalah bersamanya. Ratusan jiwa para tamu telah aku habisi hanya untuk mendapatkannya. Aku kira itu tidak cukup, itu yang aku lakukan untuk membuang rasa kecewaku. Dan aku akan melakukan hal yang lebih dari pada sekedar menghabisi ratusan jiwa, untuk membuktikan betapa kecewanya aku.


            Aku pergi meninggalkannya sendirian, lagi pula memang dia tidak bisa bergerak saat ini. Aku tertawa lepas pada ingatanku tentang tubuh-tubuh kaku di altar tadi. Dan aku akan merayakan itu semua dengan minum beberapa botol bir.


            Semua itu aku lakukan karena aku mencintainya. Aku tidak akan sanggup melihatnya bahagia dengan orang lain. Aku tau ini egois, tapi semua ini adalah salahnya! Mengapa sebelumnya dia membuatku sangat mencintainya? Dan meninggalkanku begitu saja dengan orang lain. Aku marah juga sedih dan juga kecewa. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Iblis di otakku menguasai kontrol diriku. Hingga aku memutuskan untuk menculiknya dan membawanya jauh.


            Aku rasa itu adalah lebih baik dari pada menyakiti diri sendiri dengan melihatnya bahagia dengan orang lain. Aku mohon kalian jangan pernah melakukan ini. Cukup ini saja dan jangan pernah ada hal seperti ini lagi.


            Aku membawanya ke tempat yang jauh, sangat jauh, untuk menghapus beberapa ingatannya dan merubah penampilannya. Begitu pun aku merubah total penampilan dan wajahku agar tidak dikenali polisi. Aku ingin hidup bahagia dengannya tanpa diganggu oleh kejadian pahit terdahulu.


Beberapa tahun setelah kejadian itu, dan aku telah dikaruniai 3 anak hebat darinya. Aku sangat bersyukur dan bahagia. Satu dari anakku mewarisi keahlianku yaitu kecepatan. Dan yang lainnya berwarna biru sama seperti ibunya, sebelum ibunya dirubah total penampilannya.


Oh satu hal dari kisah ini yang kita bisa dapatkan. Pengarangnya kebanyakan nonton X-Men. Hahahahaha


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
             

Senin, 27 Juni 2016



20 Juni 2016
Alhamdulillah cerpen gua dimuat di Majalah Hai edisi 25/2016, judul cerpennya Mimpi dan Basah.
Pengen tau gimana ceritanya? Check it out :)




MIMPI DAN BASAH


            Devin mengajakku pergi berkeliling kastil. Dia cerewet dan berisik setiap melihat benda yang dilewatinya. Namun aku tidak menggubrisnya, mataku terfokus pada hiasan-hiasan dinding dan juga patung yang terletak di setiap sudut ruangan. Tiba-tiba terdengar suara keras dan Devin memintakku untuk melihat ke langit-langit kastil. Setelah melihatnya aku terkejut hingga jatuh terduduk di lantai.

Seorang wanita merayap di langit-langit dengan wajah marahnya pada kami. Wajah wanita itu sangat mengerikan, matanya merah, dan giginya runcing bagai gergaji. Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku, rasanya terkunci. Sedangkan Devin terus menarikku untuk bangkit dan lari. Pasalnya, wanita tersebut semakin mendekati kami.

Akhirnya Devin pergi tanpa aku. Aku di sini, masih terduduk sambil memandangi wanita tersebut. Entah mataku tidak bisa lepas dari wanita tersebut. Mataku terasa terkunci padanya, bahkan untuk berkedip aku juga tidak bisa. Wanita itu kini sudah menepakkan kakinya di lantai dan perlahan menghampiriku. Aku tetap tidak bisa bergerak, benar-benar terkunci.

Dari kejauhan aku mendengar suara orang berlari. Dia berlari sambil berteriak namaku. Aku tau itu Devin. Devin kembali dengan membawa pedang dan mengayunkannya pada wanita itu. Belum sempat Devin menusuknya, wanita itu hilang seketika. Disaat itu pula aku baru bisa menggerakkan tubuhku kembali.

Kami melanjutkan perjalanan melihat-lihat kastil dan berhenti di sebuah pintu ruangan. Aku tanya Devin tempat apa ini dan mengapa dia mengajakku ke sini. Dia menjawab kastil ini milik kakeknya, dan dia ke sini untuk mencari sesuatu. Dan Devin tidak memberitahuku apa yang dia cari.

Perlahan kami mendorong pintu besar ini dan dikejutkan kembali dengan makhluk lain di dalamnya. Kali ini seorang pria berpakaian prajurit yang kepalanya hampir putus. Prajurit itu telah bersiap dengan pedangnya untuk menyerang kami. Namun untungnya Devin masih memegang pedang yang tadi.

Oh aku benci berhadapan dengan yang seperti ini lagi, dan untungnya juga tubuhku tidak terasa tekunci. Jadi aku mengambil sebongkah kayu di sekitar sini, untuk pertahanan diri. Tapi justru Devin menarikku keluar dari ruangan dan kembali menutup pintunya. Dia bilang makhluk itu terlalu kuat.

Kami kembali melanjutkan perjalanan hingga sampai di luar kastil, kami tiba di halaman belakang dan melihat kolam renang. Aku seperti terhipnotis ingin berenang di sana. Namun Devin menepuk keras bahuku hingga aku tersadar. Ternyata aku bahkan sudah membuka jaket dan bersiap menceburkan diri. Untungnya tidak jadi, kolam tersebut airnya hitam pekat dan kotor.

         Kami bersiap meninggalkan kolam, namun kami menoleh kebelakang karena mendengar sesuatu dari kolam. Dan.... muncullah lagi satu makhluk dari kolam. Wanita yang mirip sadako jika divisualisasikan. Oh shit aku hanya bisa mengumpat dalam hati dan meremas lengan Devin. Astga makhluk apa lagi ini? Sialnya lagi sadako ini tidak sendirian. Ada makhluk lain yang mulai muncul dari kolam. Kami memutuskan untuk secepat mungkin lari dari sini.

Oh shit apa lagi sekarang? Devin berteriak tidak bisa lari. Kakinya dipegangi oleh sadako itu. Aku meraih pedang yang masih dibawa Devin, dan aku ayunkan pedang itu ke sadako hingga ia melepaskan genggamannya dari kaki Devin. Aku berhasil, sadako itu menyerah dan pergi. Namun aku tidak benar-benar berhasil. Si sadako malah kembali membawa saudara-saudaranya. Oh astaga dan belum lagi makhluk lainnya ikut-ikutan mendekati kami.

Aku dan Devin tidak bisa kemana-mana, kami telah dikepung. Si sadako itu kini meraih kakiku hingga aku jatuh mengahantam pinggiran kolam. Sadako menyeretku paksa masuk ke kolam. *byuuuuuur* Aku tenggelam, dan sulit bernapas karena paru-paruku mulai dipenuhi air, dan si sadako semakin membawaku jauh ke dasar kolam.

*byuuuuurrrr.....* ”JEEENNY BANGUUUN....!!!! Kamu tidur seperti kerbau, cepat bangun dan berangkat sekolah!”
Oh God ternyata hanya mimpi, tapi kenapa basahnya tetap sungguhan? -_____-‘




Oleh                : Enggar Tyastiwi. M
Alamat            : Pondok Kacang Barat, Pondok Aren, Tangerang Selatan